Persiapan Ruhiyyah Ibadah Haji dan Umrah

By : DR. Aam Amiruddin, M.Si

Ibadah haji dan umrah memiliki keistimewaan tersendiri dibanding dengan ibadah lainnya karena melibatkan empat kekuatan secara terintegrasi dan simultan. Yaitu Quwwah Jasadiyyah (kekuatan fisik), Quwwah Ilmiyyah (kekuatan ilmu), Quwwah Maaliyyah (kekuatan materi) dan Quwwah Ruuhiyyah (kekuatan rohani atau spiritualitas).

Makalah ini akan membahas satu aspek saja yaitu persiapan ruhiyyah  atau spiritualitas yang harus kita latih dan pertajam sebelum berangkat ke Tanah Suci. Dengan latihan yang berkelanjutan, diharapkan secara spiritualitas atau ruhiyyah kita lebih siap menghadapi pelaksanaan ibadah haji dan umrah.

 

Diantara tahapan persiapan ruhiyyah yang harus kita lakukan adalah sebagai berikut :

1. Introspeksi diri
Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.

“Hai orang–orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Q.S. Al-Hasyr 59 : 18)

2. Perbaikan diri
Perbaikan diri dalam bahasa popular disebut taubat. Ini merupakan tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita akan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah, kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya.

 

“Hai orang–orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah SWT dengan taubat yang semurni–murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan–kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai–sungai, …..“ (Q.S. At-Tahrim 66 : 8 )

3. Tadabbur Al-Qur’an
Tadabbur Al-Qur’an artinya menelaah isi Al-Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, diantara pupuk hati adalah tadabbur Al-Qur’an. Allah SWT menyebutkan orang–orang yang tidak mau mentadabburi Al-Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabburi Al-Qur’an.

 

“Mengapa mereka tidak tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci atau tertutup.“ (Muhammad 47 : 24)

4. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh
Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridhoi Allah SWT. Apabila kita ingin memiliki spiritualitas yang cerdas, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke majlis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. Rasulullah SAW bersabda:“… Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus menerus) walaupun sedikit.“ (H.R. Bukhari)

5. Mengisi Waktu dengan Dzikir
Dzikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam dzikir. Pertama, Dzikir Lisan artinya ingat kepada Allah SWT dengan melafadzkan ucapan-ucapan dzikir seperti Subhaanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah, dll. Kedua, Dzikir Amali, artinya dzikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran–ajaran Allah SWT dalam kehidupan. Misalnya, jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja dll. Ruhiyah kita akan sehat dan hidup selalu diisi dengan dikir lisan dan amali.

 

“Hai orang–orang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang“ (Q.S. Al-Ahzab 33 : 41-42)

 

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.“ (Al-Baqarah 2 : 152)

6. Bergaul dengan Orang–orang Saleh
Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang, Karena itu, kekuatan spiritualitas erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja dan semangat dalam belajar, diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, penghianat, dan lalai akan ajaran-ajaran Allah, dikhawatirkan kita pun akan terseret arus kemaksiatan tersebut. Karena itu, Allah SWT mengingatkan agar kita bergaul dengan orang-orang saleh seperti dikemukakan dalam ayat berikut,

 

“Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di waktu pagi dan petang, mereka mengharapkan keridhoan-Nya, dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya; dan adalah keadaan itu melewati batas.“ (Q.S. Al-Kahfi 18 : 28)

7. Berbagi Kasih dengan Fakir, Miskin dan Yatim
Bebagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kekuatan spiritualitas, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain. Abu Hurairah RA bercerita, bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah SAW tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau SAW menegaskan, “Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim.“ (H.R. Ahmad).

8. Mengingat Kematian
Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengarungi kehidupan. Kehidupan ruhiyyah (spiritualitas) berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan menipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan spiritualitas dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah SAW menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening.

“Buraidah bin Hushaib Al-Aslami RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang, berziarahlah, karena ia dapat mengingatkan akan hari akhirat.“ (H.R. Muslim dan At-Tirmidzi)

9. Menghadiri Majlis Ilmu
Spiritualitas bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Diantara pupuknya adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majlis ilmu akan menjadi media pensucian spiritual. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Allah SWT akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barakah pada orang-orang yang mau menghadiri majlis ilmu dengan ikhlas.

 

“Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malaikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah akan menyebutkannya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisin-Nya.” (H.R. Muslim)

10. Berdo’a kepada Allah SWT
Allah SWT Maha Berkuasa untuk menbolak-balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi ruhiyyah yang hidup dan bening.

 


Share This :

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat