Ziarah di Kota Madinah – City Tours Kota Madinah dan Sekitarnya

By. Yogi P. Sugiar

Dari Masjid Nabawi Inilah Dahulu Islam Menyebar ke Seluruh Negeri

Madinah adalah nama yang digunakan Rasulullah SAW untuk mengganti nama kota Yatsrib, yaitu salah satu dari dua kota suci umat Islam di Saudi Arabia. Pada zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin (empat Khalifah pengganti Nabi), kota ini menjadi pusat da’wah dan basis pengembangan ajaran Islam sekaligus Ibu kota kerajaan Islam pertama di dunia.

Di kota Madinah inilah agama Islam memancarkan cahaya syari’at Islam sehingga diberi gelar Al-Madinah AL-Munawwarah yang artinya Madinah yang bercahaya. Selain gelar tersebut, Madinah masih memiliki 93 nama lain diantaranya, Madinah an-Nabi (Madinah kota nabi), Madinah ar-Rasul (Madinah kota rasul).

Kota Madinah pada masa sebelum perkembangan Islam dikenal dengan nama Yathsrib. Dikenal sebagai pusat perdagangan. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat perkembangan Islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana. Selanjutnya kota ini menjadi pusat penerus Nabi Muhammad yang dikenal dengan pusat khalifah. Terdapat tiga Khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Pada masa Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya khalifah Utsman oleh kaum pemberontak. Selanjutnya ketika kekuasaan beralih kepada bani Umayyah, maka pemerintahan dipindahkan ke Damaskus dan ketika pemerintahan berpindah kepada bani Abassiyah, pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad. Pada masa Nabi Muhammad SAW, penduduk kota Madinah adalah orang yang beragama Islam dan orang Yahudi yang dilindungi keberadaannya. Namun karena penghianatan yang dilakukan terhadap penduduk Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir keluar Madinah. Kini Madinah bersama kota suci Mekkah dibawah pelayanan pemerintah kerajaan Arab Saudi yang merupakan pelayan kedua kota suci.

Tidak seperti Makkah yang benar-benar gersang, di Madinah terdapat banyak areal tanah subur dan oase-oase (sumber air) yang dapat ditanami buah dan sayuran. Kesuburan tanah Madinah tidak akan musnah atau berkurang tetapi akan terus bertambah dan berkembang mengimbangi pertumbuhan dan kebutuhan mu’min dan jama’ah haji yang datang ke Madinah. Ini karena tanah Madinah itu memiliki mu’jizat atau setidaknya “berkah” khusus karena Rasulullah SAW pernah memohon kepada Allah SWT : “Ya Allah berilah Madinah ini dua kali berkah yang Engkau berikan kepada Makkah”. Jadi semua yang ada dan tumbuh di Madinah memiliki nilai keberkahan dua kali yang ada di Makkah. Padahal Makkah sendiri sudah demikian besar berkahnya karena Allah telah mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim AS agar Makkah tidak kekurangan dari segala kebutuhan hidup termasuk buah-buahan.

 

1. PERCETAKAN AL-QUR’AN / MUJAMMA’
Percetakan Al-Quran/Mujamma’ ini diresmikan pada tahun 1985 oleh pemrakarsanya Raja Fahd bin Abdul Aziz. Tempat ini berupa sebuah komplek yang luasnya mencapai 20 hektar dan terletak 10 km sebelah barat laut Masjid Nabawi. Diberi nama “Mujamma’ AL-Malik Fahd Lithaba’ati al-Mushhaf Asy-Syarif” (King Fahd Al-Quran Printing). Percetakan ini dilengkapi mesin-mesin sangat besar dan canggih sehingga menjadi percetakan terbesar di dunia. Tujuan penting adanya Mujamma’ adalah untuk menjamin kapasitas produksi Al-Quran sehingga mampu mensuplay kebutuhan Al-Qur’an dunia yang semakin hari semakin meningkat.

Mujamma bisa mencetak 8 juta Al-Qur’an per tahunnya

Dengan jumlah pegawai 1.600 orang, percetakan ini dapat menghasilkan 8 juta kitab Al-Quran per tahun. Sampai saat ini sudah menghasilkan lebih 50 juta kitab Al-Quran yang terdiri dari berbagai ukuran. Seluruh Al-Quran yang dicetak disini dibagi-bagikan secara gratis kepada umat Islam seluruh dunia melalui masjid-masjid dan lembaga-lembaga Islam.

Selain mencetak AL-Quran berupa kitab atau buku terjemahan tafsir Al-Quran dalam berbagai bahasa, percetakan ini juga mencetak kaset-kaset bacaan Al-Quran baik audio maupun video. Sampai saat ini sudah menyelesaikan pencetakan terjemahan tafsir Al-Quran dalam bahasa Hausa, Cina, Urdu dan Turki. Adapun edisi bahasa Indonesia, dengan pertimbangan sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia telah terlebih dahulu diproduksi.

 

2. JABAL UHUD
Jabal Uhud adalah gunung terbesar di Madinah. letaknya sekitar 5 km dari pusat kota Madinah. Dulu sebelum Pemerintah Saudi membangun jalan baru, Gunung Uhud ini selalu dilewati jama’ah yang masuk ke Madinah maupun yang menuju Makkah karena memang letaknya di pinggir jalan raya yang lama kedua kota itu.

Nama Uhud akan selalu dikenang oleh umat Islam karena di lembah gunung ini pernah terjadi peperangan besar antara umat Islam dan kafir Quraisy pada tanggal 15 Syawwal 3 H (Maret 625 M). Perang yang kemudian disebut Perang Uhud ini terjadi karena golongan kafir Quraisy mencoba membalas kekalahan mereka dalam Perang Badar lalu memancing amarah penduduk Madinah dengan menduduki ladang gandum di Jabal Uhud.

Dalam perang itu kaum muslimin sesuai dengan strategi Rasulullah SAW, mengambil posisi di atas sebuah bukit dan

Pemakaman di Syuhada Uhud, Madinah

menempatkan pasukan pemanahnya (sehingga dikenal dengan jabal rumat, bukit tempat pasukan pemanah) dan Rasulullah SAW mengamanatkan menang atau kalah tidak boleh turun dan bukit itu. Dalam peperangan yang sangat dahsyat itu kaum muslimin bisa mengalahkan kaum kafir Quraisy, melihat ghanimah (rampasan perang) yang ditinggalkan, sebagian pasukan yang diatas jabal rumat turun untuk memburu ghanimah dan lupa amanat Rasulullah SAW.

 

Melihat kondisi seperti ini, pasukan kafir Quraisy yang dipimpin oleh Khalid Bin Walid yang saat itu belum masuk Islam memanfaatkannya untuk membalas menyerang kaum muslimin dengan menguasai jabal rumat dan menyerang kaum muslimin yang sedang sibuk memburu ghanimah dan mereka berhasil menggugurkan sampai 70 syuhada, diantara syuhada yang gugur di Uhud adalah paman beliau yaitu Hamzah dan Mush’ab Bin Umer (shahabat pertama yang diutus ke Madinah sebelum Rasulullah SAW hijrah) dan beliau sangat sedih dengan wafatnya Hamzah.

 

3. MASJID QIBLATAIN
Masjid Qiblatain berarti Masjid dengan dua qiblat yaitu satu ke arah Al Quds di Jerushalam dan satu lagi ke arah Baitullah di Makkah. Pada awalnya Qiblat (atau arah shalat) untuk semua Nabi adalah Baitullah di Makkah yang dibangun pada masa Adam AS. Sebagaimana yang tercantum dalam Q.S. Ali Imran ayat 96 : “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS mengikuti Qiblat ini. Kemudiannya Al Quds ditetapkan sebagai Qiblat untuk sebagian dari Para Nabi dari bangsa Israel. Para Nabi ini ketika shalat didalam Al Quds, biasa menghadap pada arah sedemikian rupa sehingga kedua-duanya Al Quds dan Baitullah di Makkah saling berhadapan.

Nabi Muhammad SAW biasa berdiri sedemikian rupa antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani sehingga kedua-duanya rumah Allah SWT – Al Qud dan Baitullah berada di depan beliau.

Seperti disebutkan didalam Bukhari, Nabi Muhammad SAW melakukan shalat di Madina menghadap ke arah Al Qud untuk enam belas atau tujuh belas bulan. Beliau secara total patuh kepada perintah Allah SWT. Bagaimanapun beliau menginginkan Qiblat yang sama dengan Adam AS dan Ibrahim AS. Nabi Muhammad SAW sangat berharap bahwa permohonannya akan dikabulkan.  “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 144). Dengan cara ini Allah SWT mengabulkan permohonan Nabi Muhammad SAW. Bahwa hanya Allah SWT yang dapat memerintahkan perubahan Qiblat dan ini bukanlah berdasarkan keputusan dari seorang Nabi.

4. MASJID JUM’AT
Masjid Jum’at adalah masjid yang terletak di Lembah Ranuna, kirakira 4 km dan kota Madinah tidak jauh dan masjid Quba. Dinamakan masjid Jum’at karena disinilah Rasulullah SAW dan shahabatnya melakukan shalat jum’at yang pertama. Peristiwa itu terjadi setelah 14 hari beliau beristirahat di Quba dalam perjalanan hijrahnya ke Madinah. Setibanya di kota Madinah, beliau diterima keluarga Bani Amir bin ‘Auf. Hari itu adalah jum’at yang pertama dalam sejarah Islam.

Jama’ah PI Berfose di Halaman Masjid Quba

5. MASJID QUBA
Masjid Quba merupakan masjid pertama di Madinah. Allah Taala memuji mesjid ini dan penduduk Quba yang mendirikan salat di sana dengan firman-Nya: “… Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (Q.S. At-Taubah [9] : 108)

Sejarah menyebutkan, Masjid Quba merupakan masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah beliau ke kota Madinah, yang dibangun di atas sebidang tanah milik Khalsum bin Hadam dari Kabilah Amir bin Auf.

Rasulullah SAW sangat mengajurkan untuk melaksanakan shalat di Masjid Quba ini karena pahalanya sama dengan umroh. Sebagaimana sabdanya, ”Barang siapa telah bersuci (berwudlu) di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba lalu shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya sama dengan pahala umroh.”

6. JABAL MAGNET

–  Sekitar 40 km menuju arah Kota Tabuk. Jabal Magnet berada di luar daerah haram, sehingga bebas dikunjungi warga non muslim. Jalan sepanjang sekitar 4 km di kawasan perbukitan ini diyakini memiliki daya dorong. Mobil akan berjalan dengan kecepatan tinggi menjauhi Jabal Magnet, meskipun persneling mobil dalam posisi netral.

–  Dari sejumlah informasi yang berkembang di Madinah, menyebutkan, dulunya Jabal Magnet ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang Arab Baduy. Saat itu si Arab ini menghentikan mobilnya karena ingin buang air kecil. Namun karena sudah kebelet, ia mematikan mesin mobil, tapi tidak memasang rem tangan.

Kawasan Wisata Jabal Magnet, Madinah

–  Ketika sedang enak-enaknya pipis, ia kaget bukan kepalang, mobilnya berjalan sendiri dan makin lama makin kencang. Ia berusaha mengejar, tapi tentu saja tidak berhasil. Dan menurut kisahnya, mobilnya tersebut baru berhenti setelah melenceng ke tumpukan pasir di samping jalan.

–  Sejak itu, cerita tersebut menyebar ke berbagai pelosok dan ramai dikunjungi warga, baik dari Arab sendiri maupun dari negara lain. Untuk itu, pemerintah Arab Saudi sudah membangun jalan raya yang begitu lebar agar pengunjung bisa merasakan dorongan magnet ketika melaju dengan kendaraannya. Di bagian ujung dibuat jalan melingkar untuk putaran ketika pengaruh medan magnet sudah lemah.

 

– Namun, jabal magnet yang sudah terkenal dikalangan jamaah haji/umrah Indonesia itu, ternyata tidak dikenal oleh warga asli Madinah, bahkan yang lebih tahu adalah warga Madinah yang merupakan pendatang. Dan setelah diketahui, ternyata warga asli Madinah menyebutnya bukan dengan jabal magnet (bukit magnet), tetapi Manthaqotul Baido (tanah putih).

–  Fakta ilmiahnya? Menurut fisikawan, dan dibenarkan oleh pengukuran GPS, efek ini semata hanyalah ilusi. Yup. Ilusi yang disebabkan oleh lansekap. Posisi pohon dan lereng di daerah sekitar, atau garis cakrawala yang melengkung, dapat menipu mata sehingga apa yang terlihat menaiki tanjakan sesungguhnya menuruni tanjakan.

–  Berdasarkan yang telah anda duga, tidak di seluruh bagian gunung yang mengalami kondisi ‘ajaib’ ini.  Hanya pada titik tertentu, yang langka, yang kondisi-kondisi memungkinkan agar efek ini terjadi.

Fisikawan Brock Weiss dari Universitas Negara Bagian Pennsylvania mengatakan “Kuncinya adalah lereng yang bentuknya sedemikian hingga memunculkan efek seolah anda menaiki tanjakan.” Pengukuran GPS yang dilakukan Weiss dan ilmuan lainnya menunjukkan kalau elevasi daerah dasar tanjakan, sesungguhnya lebih tinggi dari elevasi daerah puncak tanjakan. Jalannya sesungguhnya menurun

 


Share This :

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kami siap membantu anda !

×