Baitullah itu Ngangenin

SERUNYA UMRAH LIBURAN AKHIR TAHUN | PROGRAM UMRAH 2015

baitullah

Baitullah, kata yang singkat namun kaya akan makna didalamnya. Kata yang agung karena esensi dan keberadaannya yang tidak tergantikan. Sejak dahulu umat manusia beribadah di tempat ini, mereka mendatangi Baitullah karena panggilan hati untuk memuja dan memohon ridlo Allah Swt. Setelah fondasi Baitullah ditinggikan, Nabi Ibrahim as diperintahkan Allah Swt. menyeru umat manusia mendatanginya untuk melaksanakan ibadah haji. Sebagaimana firman Allah Swt,

“Serulah manusia untuk mengerjakan haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai setiap unta yang kurus. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh”. (Q.S. Al-Hajj [22] : 27).

Baitullah yang berarti Rumah Allah sebagaimana tercantum di salah satu ayat Al-Quran yang artinya, “Ingatlah ketika Kami menjadikan Baitullah sebagai tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. …” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 125).

Baitullah merupakan nama lain dari Ka’bah. Bait bermakna rumah. Rumah merupakan tempat kembali saat hati merasa lelah dan gelisah. Di rumah, kegelisahan dan kelelahan akan berkurang, bahkan hilang. Begitulah di Baitullah. Tempat manusia selalu terpanggil untuk mencari ketenangan. Di Baitullah, akan hilang semua resah dan gundah.

baitullah1

Setiap saat Baitullah dikunjungi jutaan umat Islam yang datang dari penjuru negeri di seluruh dunia. Jama’ah Umrah, Haji datang dan pergi silih berganti tiada henti sehingga sedetikpun Ka’bah tidak pernah luput dari peribadatan para jama’ah, baik yang melaksanakan thawaf maupun menghadapkan wajahnya untuk shalat. Di luar jam-jam shalat Ka’bah tiada henti diliputi lautan manusia yang sedang melaksanakan thawaf dengan berputar mengelilingi ka’bah sambil berdoa memohon ampunan serta keberkahan hidup dunia dan akhirat. Ratusan bahkan ribuan derap langkah manusia memutari ka’bah dengan hati yang suci, bersimpuh dan berkhidmat dihadapan Allat Swt. Hati mereka terpaut bukan karena bangunan megah Ka’bah yang terbuat dari batu, hati mereka terpatri karena begitu dekat dengan Allah pemilik Ka’bah dan pemilik seluruh yang ada di langit dan di muka bumi ini.

Memulai ibadah Umrah atau Haji dari Miqat, para jamaah melafadzkan Talbiyah: “Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaika laa syariikalaka labbik. Innalhamda wani’mata laka wal mulk, Laa syarikalaka”. Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu yang tiada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian, nikmat dan kekuasaan adalah milik-Mu yang tida ada sekutu bagi-Mu”. Lafadz ini diucapkan berulang-ulang hingga memasuki Masjidilharam untuk melaksanakan thawaf.

Siapapun dia apakah seorang presiden, pengusaha kaya, pejabat pemerintah, ataupun rakyat biasa saat langkah kakinya menuju Baitullah menunaikan ibadah Umrah maupun Haji, maka ia akan melakukannya dengan tidak menujunkkan status keduniaannya sama sekali. Orang kaya, orang miskin, pejabat atau rakyat biasa hanya menggunakan 2 helai kain ihram untuk laki-laki dan hanya menggunakan pakaian biasa yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan untuk perempuan. Tak ada hal yang bisa disombongkan, dibangga-banggakan, dan diutamakan. Karena keagungan, kebesaran, dan keutamaan hanyalah milik Allah semata.

Kita tinggalkan semua status duniawi kita, datang kepada Allah hanya dengan membawa diri dengan segala keadaan yang melingkupinya. Dan sungguh, tidak ada seorang pun yang merasa keberatan dengan peristiwa ini semua. Tidak ada yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan Allah kepada para tamu-Nya. Inilah jamuan paling istimewa dari pemilik Baitullah kepada para tamu-Nya. Karena memang begitulah yang seharusnya, bahwa sesungguhnya apa yang kita miliki di dunia ini hanyalah milik Allah yang Dia titipkan kepada kita untuk dipergunakan sebagaimana keinginan-Nya.

baitullah2

Seluruh jamaah yang datang ke Baitullah merasa sangat nyaman dengan menanggalkan status dunia yang selama ini mereka sandang. Mereka datang ke Baitullah dengan gembira karena hati mereka benar-benar terhubung dengan Allah Swt, Tuhan yang menggenggam hati dan kehidupannya. Dan ketika mereka pulang ke daerahnya masing-masing, mereka akan sangat merindukan moment terindah yang telah dilaluinya selama berada di Baitullah.

Mungkin, cukup lelah bagi kita memangku status keduniaan yang selama ini kita sandang dan kita bangga-banggakan iti. Mungkin, cukup cape juga kita dibebankan oleh tuntutan-tuntutan duniawi yang bersifat sementara dan fana ini. Begitu datang ke Baitullah kita melepaskannya dan hati kita sangat nyaman dan tenteram. Dengan demikian, kita akan kembali kepada dasar diri kita sebagai manusia ciptaan Allah yang sebenarnya tidak diberi kuasa apapun selain dari kadar kekuatan yang diberikan Allah Swt. Bukankah Allah menciptakan kita berawal dari kelemahan dan tanpa kekuatan apapun? Sebagaimana firman Allah Swt, Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (Q.S. An-Nahl [16] : 78)

masjidil haramBanyak hal yang terjadi di bumi yang sudah tua ini. Kemajuan teknologi, globalisasi, peradaban maju umat manusia semua bersatu padu dalam dimensi kemajuan dan kemampuan manusia mengelola kehidupannya. Namun percayalah, kerinduan akan kembalinya hati dan spiritualitas manusia untuk kembali ke titik nol dimana terdapat kebutuhan mendasar untuk berkomunikasi intensif dengan penciptanya, yaitu Allah Swt, tidak akan pernah hilang seiring berjalannya waktu.

Manusia, akan senantiasa merindukan Baitullah dimana ketenangan hati, ketentraman jiwa, dan keamanan begitu kentara dirasakan. Tanah Suci, Al-Haram, Baitullah merupakan prototipe dari keadaan yang seharusnya ada dalam diri dan lingkungan umat manusia. (/gie)